Festival Budaya Kotagede 2023

Lembaga Pers Remaja
3 min readNov 14, 2023

--

Tanggal 11–12 November 2023 lalu, tepatnya di Kawasan Budaya Bokong Semar, Singosaren, Kotagede, telah diselenggarakan secara meriah semacam pesta rakyat bertajuk Festival Budaya Kotagede ‘nJagong ing Jagang’. Pemilihan tema tersebut tak semata hanya mencari rima yang cantik tetapi juga memiliki arti ciamik. Kata njagong memiliki arti duduk bersama, dimana semangat kerukunan dan keakraban untuk memperkuat kebersamaan timbul dari duduk bersama. Sedangkan kata ing Jagang adalah sebuah ciri khusus lokasi FBK 2023 dilaksanakan yakni Kawasan Budaya Bokong Semar Singosaren. Lokasi Kawasan Budaya Bokong Semar seperti tidak terisahkan dengan Kawasan Benteng Cepuri. Di mana ada benteng, disitu ada selokan (yang mengelilingi beteng). Benteng Cepuri inilah jagang yang akan diramaikan oleh jagongan-jagongan lintas generasi dalam FBK 2023.

Dalam upaya meramaikan FBK 2023 tentu dibutuhkan banyak pihak untuk berkolaborasi. Badan Pengelola Kawasan Cagar Budaya (BPKCB) Kotagede dan difasilitasi oleh Kundha Kabudayaan DIY menyajikan kegiatan budaya ini dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Maka, Bapak Priyo salim selaku Ketua BPKCB Kotagede saat ini mendorong adanya sinergi dengan generasi muda Kotagede yang bersama-sama terhubung dalam Sarekat Remadja Karsa.

Sejatinya kegiatan kesenian di Kotagede sudah hidup secara bergilir di setiap kampung sejak 1999 dengan nama Festival Seni Kampung. FSK yang terus berkembang melahirkan Festival Kotagede yang lebih dapat memberdayakan kesenian kotagede dengan menekankan pada penggalian potensi rakyat untuk ditujukan ke publik.

Pada mulanya Pusat Dokumentasi Kotagede berperan dalam diadakannya festival. Tahun 2001 FBK secara pertama kali mengadakan kegiatan karnaval. Tahun 2002–2023 panggung-panggung di FBK meningkat jumlahnya hingga belasan. Tahun 2004–2005 terjadi penurunan modal untuk diseleggarakannya FBK karena terdapat kegiatan serupa dan sendra tari. Karena gempa, 2006, FBK tidak dapat dilaksanakan dan pada tahun 2007 pun, modal FBK semakin berkurang. Menanggapi kegiatan kesenian yang perlu digalakkan lagi, lahirlah Forum Joglo pada 2012 dan berubah menjadi BPKCB pada 2015.

Menariknya, Festival Budaya Kotagede 2023 melibatkan peran anak muda. Hal inilah yang membuat berbeda dari Festival Budaya Kotagede biasanya. Anak muda kotagede memiliki peran dalam diselenggarakanya FBK. Ketua BPKCB Kotagede, Pak Priyono Salim, mengharapkan dengan adanya ruang bagi anak muda untuk mengambil peran penting, ia memiliki pengalaman berorganisasi dalam event budaya sehingga dapat bermanfaat untuk lingkungannya juga masa depannya. Dengan begitu, dalam FBK terdapat pula proses ‘pendidikan’ bagi anak muda.

Beberapa fakta menarik FBK 2023

  1. Pasar Senthir yang menghadirkan 24 lapak terdiri dari makanan, minuman, dan barang lawasan otentik dibuat eksklusif hanya dari lima wilayah di Kotagede yang telah terkurasi dengan baik. Dengan begitu Pasar Senthir akan dapat memunculkan potensi rakyat Kotagede
  2. FBK hadir dengan Karnaval Budaya yang turut diramaikan oleh kontingen masing-masing kelurahan dan desa. Membawa tema Ambangun Bumi Mataram, karnaval akan mengajak para warga mengelilingi kotagede hingga rute bermuara pada arena Panggung Kesenian di Kawasan Cagar Budaya Bokong Semar.
  3. Kolaborasi dengan komunitas lokal mebuat FBK 2023 semakin ramai. FBK 2023 menggandeng Balai Besar Penguji Standar Instrumen Kehutanan (BBPSIK) Yogyakarta, Komunitas Bokong Semar, Bentala Project dan warga untuk melakukan penanaman Pohon Mentaok, atau disebut Ngerumat Bumi Mataram. Harapannya, selama Festival Budaya Kotagede masih terus diselenggarakan, Pohon Mentaok dan beberapa pohon asli Kotagede dapt terus terawat dan kerumat.
  4. Kegiatan berkonsep unik live experience atau lebih dikenal dengan workshop membuat penggembira dapat melihat lebih dekat sendi-sendi kehidupan. Seperti Walking Tour Kotagede, Kian Berkain (styling menggunakan kain), Jamu Menjamu (meramu jamu), Kepo Kipo (memasak kipo), Sayang Wayang (melukis wayang), Hamemayu Hayuning Matatam (lomba mewarnai tingkat TK), Becik Ketitik Rupa Ketara (menggambar dengan teknik pointillism), Aksi Aksara (mengenal aksara jawa), dan Kelas Cukil (eksplorasi sampah sebagai media seni grafis).
  5. “Si Paling Mancing” ini menjadi sebuah inovasi yang digadang-gadangkan. Kegiatan ini berasal dari kebiasaan warga dalam memancing di jagang (kolam). Maka, program ini menjadi program natural yang sangat relate dengan menjadi aktivasi memori dan juga guyub yang ada.

oleh: Qonita Khaira Listie

--

--

No responses yet